PT Intraco Penta Tbk (INTA) optimistis dapat memperbaiki kinerja di tahun 2021 mendatang lewat sejumlah strategi dan diversifikasi bisnis. Direktur Utama INTA Petrus Halim mengungkapkan ada potensi pertumbuhan alat berat sebesar 10% pada 2021 mendatang.

Di sisi lain, industri alat berat mengalami tekanan sepanjang tahun ini. Hal ini bahkan disebut turut dialami para pemain utama di industri alat berat. Petrus melanjutkan, di tengah kondisi itu, sejumlah pemain alat berat dari Cina terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. “Tren penurunan penjualan dari pemain utama alat berat dimanfaatkan para perusahaan alat berat dari Cina untuk meningkatkan penjualan,” ujar Petrus dalam gelaran Public Expose Virtual, Rabu (23/12).

Petrus menjelaskan, pada 2020 pangsa pasar alat berat dari industri non pemain besar mencapai 32% atau meningkat drastis dari hanya sebesar 4% pada 2012 silam.

Menangkap momentum tersebut, Petrus memastikan pihaknya melalui anak perusahaan, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) telah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan PT LiuGong Machinery Indonesia untuk memasarkan, menjual serta mendistribusikan produk unit alat berat serta suku cadang merek LiuGong dan Dressta.

Petrus menambahkan, sepanjang 2015 hingga 2020, LiuGong mencatatkan pertumbuhan market share relatif baik mencapai 4% pada tahun ini. “Ini tunjukkan posisi LiuGong terus bertumbuh dengan baik sehingga diharapkan bisa beri kontribusi positif terhadap kinerja perseroan,” jelas Petrus.

Ia melanjutkan, penjualan suku cadang juga jadi salah satu fokus INTA ke depannya. Tak sampai di situ, Petrus memastikan langkah diversifikasi bisnis masih akan dilakukan ke depannya.

INTA menyasar sejumlah sektor lain seperti infrastruktur, pertanian, kehutanan dan pertambangan selain batubara. Petrus menerangkan, sektor pertambangan nikel jadi salah satu yang dinilai punya prospek cukup baik. Hal ini ditandai dengan investasi sektor hilir yang semakin masif.

“Ini pastikan permintaan bijih nikel akan semakin tinggi, alat kami kan dipakai di hulu maka kita cukup optimistis dengan sektor nikel walau pemakaian alat berat di nikel tidak seintensif di batubara,” terang Petrus.

Pihaknya pun menargetkan pada 2021 mendatang dapat mencapai pertumbuhan penjualan alat berat mencapai 10%. Ia menjelaskan dengan kondisi yang ada saat ini dimana industri alat berat terdampak pandemi covid-19 maka pertumbuhan 10% merupakan target yang realistis.

Petrus melanjutkan, lini bisnis konstruksi juga bakal jadi fokus ke depan. Menurutnya, selama masa pemerintahan Jokowi terjadi banyak pembangunan infrastruktur. “Ini sifatnya multi years, konstruksi jadi kontribusi besar untuk permintaan alat berat,” kata Petrus.

Di sisi lain, situasi politik Cina dan Australia dinilai bakal kembali mendorong pertumbuhan industri batubara. Apalagi saat ini permintaan diproyeksi akan terus naik seiring masuk musim dingin di Cina.Petrus menambahkan, pihaknya juga tak menutup kemungkinan untuk berfokus pada lini bisnis pembangkit listrik pasca rampungnya proyek PLTU Bengkulu berkapasitas 2X100 MW yang telah beroperasi pada 27 Juli 2020.

Sementara itu, Direktur INTA Eddy Rodianto mengungkapkan, alokasi capex di 2021 akan diatur dalam jumlah yang minim. “Kita mau hati-hati jadi capex tahun depan kita set di very minimum level,” ujar Eddy tanpa mau merinci jumlah capex yang disiapkan.

Yang terang, ia memastikan dampak pandemi covid-19 diperkirakan masih akan terasa hingga Semester I 2021 mendatang. Untuk itu pihaknya berharap penerapan vaksin dapat segera dilaksanakan pemerintah secara meluas.

Demi menjaga kinerja, Eddy memastikan INTA bakal mengoptimalkan operasional eksisting dan alokasi belanja modal untuk mencapai target di 2021 mendatang. 

(Sumber : https://newssetup.kontan.co.id/ )

Open chat
Halo, ada yang bisa saya bantu?
Visit Us On InstagramVisit Us On Facebook